
Trophy Buffalo dari sutradara Vanni Jamin, mengambil setting di Padang dan bahkan sepenuhnya berbahasa Padang (dengan subtitel Inggris). Adegan dibuka dengan perjalanan orang-orang menuju sebuah lapangan. Fokus pada seorang ayah (bertampang mirip sekali Larry Guzman) dan seorang anak usia SD, Pandi, yang sedang membawa kerbau. Rupanya, ini adalah jelang sebuah tarung kerbau tahunan. Established shot yang lancar: kita segera tahu, para tokoh utama film ini. Pencahayaan terang, walau tak istimewa tapi cukuplah rapi. Dan, hanya beberapa detik film dibuka, tiba-tiba kamera 'melayang' ke atas, dari shot punggung-punggung orang menuju suatu tempat langsung mengambil pandangan dari atas pohon untuk menampakkan sebuah lapangan ramai nun di depan sana. Wah, saya pikir, film ini jelas punya semangat "profesional" dan bukan "gerilya". Semangat ini terasa terus, sepanjang film berdurasi 18:22 menit itu. Pandi yang tampak segan ke pertandingan itu, mengkhawatirkan si Borgol, kerbau ayahnya. Pandi melihat lawan si Borgol, dan pemiliknya: seorang ayah, dan seorang anak sebaya Pandi, si Ida yang manis. Pemeran ayah Ida sungguh menarik: wajahnya mampu merangkum rentang emosi yang luas, bahkan tanpa harus ia berkata apa-apa. Tapi, sayangnya, ia bukan pemeran utama film ini. Dengan lancar, film ini membangun plot. Editing juga terasa cerkas. Bukan hanya Pandi, tapi kakek Pandi (yang dengan trick penyuntingan sederhana, bisa tampak sakti karena bisa hilang dan muncul di luar kontinuitas <b>...</b>
zoo
animals